PROSPEK INDUSTRI PENGECORAN LOGAM INDONESIA DIMASA MENDATANG
Sebelum terjadi krisis moneter yang terjadi di Indonesia, industri pengecoran logam berkembang dengan baik bahkan terus miningkat dengan produk yang semakin komplek.
Akan tetapi semenjak terjadinya krisis moneter, banyak pengusaha pengecoran logam yang gulung tikar karena terjadi pembengkakan biaya operasional.
Lambat laun kondisi terus berubah mengingat ketergantungan industri pada produk pengecoran logam meskipun teknologi pengecoran merupakan teknologi yang tidak efektif dalam biaya operasionalnya.
Betapa tidak, untuk membuat satu produk saja harus dibutuhkan berbagai macam peralatan, seperti pola, cetakan, dapur peleburan, bahan baku dan permesinan.
Selain itu waktu yang dibutuhkan juga relatif lebih lama. Sehingga tidak khayal apabila biaya produk pengecoran lebih mahal.
Meskipun demikian teknologi pengecoran logam masih diminati karena belum ada teknologi pengganti yang lebih efisien.
Bukannya tidak ada, cuma baru taraf penelitian dan percobaan. Itupun hanya terbatas bagi pemegang dana kuat karena alatnya yang terbilang sangat mahal, seperti 3D Printing, Prototyping, dll.
Selama ini, teknologi pengecoran logam banyak digunakan dalam proses pembuatan produk-produk di bidang otomotif, petrokimia, transportasi, perpipaan, semen, kertas dan pulp, bergantung pada kemajuan teknologi pengecoran logam untuk memproduksi material yang berkualitas tinggi dengan kualitas yang lebih berkualitas baik dari segi fisik, mekanis, pemakaian, ketahanan panas serta ketahanan karat.
Mengutip dari Yos Rizal Anwar- Ketua Himpunan Ahli Pengecoran Logam Indonesia (HAPLI) dalam acara “Seminar Nasional Sewindu POLMAN Ceper” dengan judul “Peluang dan Tantangan Industri Pengecoran Logam Indonesia dimasa Mendatang” (21 Juli 2011) yang melihat kondisi sekarang mengenai industri pengecoran logam adalah bahwa: kualitas SDM relatif masih rendah terutama UKM, tingkat reject relatif masih tinggi dibanding dengan rata-rata internasional, standar kompetensi profesi pengecoran logam sudah ada tetapi belum disosialisasikan dan diadopsi dengan baik, tidak ada informasi yang komprehensif tentang kondisi pengecoran logam di Indonesia terutama UKM, teknologi peralatan produksi sudah banyak yang ketinggalan terutama UKM, tidak tersedianya software yang murah dan baik dan bias diperoleh oleh industri dengan mudah, harga jual produk sangat ditentukan oleh pasar, permintaan pasar terus meningkat terutama di bidang komponen otomotif dan masih sering terjadi kesulitan gas, kokas terlebih UKM
Sedangkan peluang kedepan untuk industri pengecoran logam adalah: 70% berat dari produk manufaktur terbuat dari metal casting, permintaan casting selalu mengalami penigkatan baik di komponen otomotif, alat-alat berat, elektronik, peralatan oil dan gas, petrokimia, semen, industri kertas, dll untuk cast iron, aluminium, alloy steel casting dan adanya kampanye nasional mengenai mengutamakan pemakaian produksi nasional.
Dengan memperhatikan peluang yang sudah dihadapan mata ini diharapkan industri pengecoran logam akan semakin berkembang pesat, minimal dapat mencukupi kebutuhan sendiri dan selebihnya dapat di ekspor ke luar negeri.



