PENEMUAN MATERIAL GRAPHENE SEBAGAI BUKTI KESEDERHANAAN TEKNOLOGI NANO (NANOTECHNOLOGY)
Selama ini banyak orang yang menganggap bahwa Teknologi Nano atau Nanotechnology merupakan sebuah teknologi mutakhir yang sangat rumit dan komplek serta dibutuhkan peralatan pendukung yang sangat modern untuk merealisasikannya.
Sehingga bagi Negara-Negara majulah yang mampu mengembangkan teknologi nano ini karena hanya Negara-Negara maju yang telah siap dengan pendanaan dan infrastrukturnya disamping kemajuan teknologi modern yang selama ini telah dikuasainya.
Nanotechnology merupakan teknologi masa depan yang akan dijadikan standard utama disegala bidang yang berkaitan dengan manufaktur yang akan menggulung teknologi konvensional (teknologi sekarang) mengingat efisiensi penggunaannya.
Pada dasarnya Nanotechnology adalah teknologi dengan menggunakan material dasar dengan ukuran nanometer (nm) sebagai penyusunnya. Sementara ini teknologi yang sudah berjalan adalah dengan ukuran mikro.
Kendala yang dihadapi dalam mengaplikasikan nanotechnology adalah pembuatan mesh atau saringan untuk menyaring material dasar agar memiliki ukuran dalam skala nanometer secara seragam.
Jadi mesh inilah yang sebenarnya menjadi acuan teknologi yang digunakan. Apakah menggunakan nanotechnology ataupun Teknologi Konvensional ( teknologi sekarang ini yang masih menggunakan skala micrometer).
Akan tetapi dengan ditemukannya material Graphene oleh dua ilmuwan kelahiran Rusia, Andre Geim dan Konstantin Novoselov yang mendapat penghargaan bergengsi Nobel Fisika atas terobosannya mengisolasi graphene yang dianggap sebagai material paling kuat tetapi paling tipis di dunia, dengan cara mudah dan sederhana yaitu dengan menggunakan selotip (Scotch tape).
Material grahpene yang dihasilkan sangat menakjubkan karena mampu memiliki kekuatan 100 kali lipat dari baja.
Menurut komite Nobel Fisika dari Royal Swedish Academy of Science, penelitian graphene tersebut membuka potensi pengembangan satelit, pesawat, dan mobil masa depan dengan material yang sangat kuat tetapi ringan.
Selain itu, wujud material yang transparan juga berpotensi untuk digunakan sebagai layar sentuh, sel surya, dan komponen komputer yang lebih efisien.
Jadi ternyata teknologi nano atau nanotechnology tidak harus menggunakan peralatan modern namun dengan menggunakan peralatan yang sederhanapun dapat dipergunakan tergantung kreatifitas para peneliti.
Semoga dengan hadirnya material baru yang mengaplikasikan nanotechnology dengan peralatan yang sederhana dapat dijadikan inspirasi bagi para peneliti Indonesia untuk mengembangkan nanotechnology.
Referensi: sains.kompas.com




jadi ingat kartun jimmy neutron deh kalau ngomongin nano technologi…
blue suka membaca postnya
salam hangat dari blue
smoga peneliti Indonesia bisa lebih kreatif,, dengan dana yg terbatas ,,
nice post..
kayaknya link baner sy broken deh Mas…